Psikolog Pernikahan
Psikolog Pernikahan

Menggunakan Jasa Psikolog Pernikahan Untuk Menciptakan Hubungan Harmonis

Pernikahan atau perkawinan adalah hal yang didambakan bagi setiap insan. Bisa memiliki pasangan yang dapat menemani kita hingga hari tua, menjadi impian semua manusia dengan harapan dapat menikah sekali seumur hidup. Namun, ada kalanya pernikahan menghadapi rintangan yang mungkin penyelesaiannya membutuhkan pihak ketiga seperti psikolog pernikahan.

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, bukan hanya cinta dan materi yang harus mereka siapkan, namun mental yang mereka miliki. Kesiapan mental yang akan membantu mereka dalam menghadapi setiap masalah dalam pernikahan. Meski sepasang kekasih telah lama menjalin hubungan pacaran, tidak ada jaminan bahwa mereka telah mengenal pasangannya dengan baik.

Banyak dari pasangan ini yang kaget dengan beberapa kebiasaan yang baru muncul setelah pernikahan. Inilah yang kadang menjadi kondisi dimana membuat psikolog pernikahan dibutuhkan. Pasangan muda yang masih emosional cenderung sulit menyelesaikan masalah dan membutuhkan pihak penengah.

Fase awal pernikahan adalah fase kritis bagi tiap pasangan. Terjadi di 10 tahun pertama pernikahan, fase ini yang nantinya menentukan apakah kebersamaan mereka akan terus lebih baik atau justru malah lebih buruk.

Dalam psikologi pernikahan, dalam fase ini terdapat proses saling mengenal kebiasaan masing-masing, menerapkan aturan dasar dalam rumah tangga, hingga perencanaan memiliki anak. Pada fase ini pula, pasangan akan mulai menyesuaikan harapan dan pembagian peran dalam rumah tangga sebagai pasangan suami istri.

Seringkali para psikolog pernikahan menengahi masalah yang bermula dari miss komunikasi atau kesalah pahaman antara suami dan istri, akibat dari sulitnya mengelola emosi dan mementingkan ego sendiri.

Itulah mengapa setiap pasangan harus memastikan bahwa mereka telah memiliki kesiapan dan kematangan mental untuk menghadapi masalah seperti ini. Meski terlihat sepele, perbedaan pendapat sering kali memicu masalah yang lebih besar jika tidak ditangani dengan benar. Kemampuan komunikasi dan kontrol emosi setiap pasangan akan diuji pada fase ini.

Baca Juga:  Self Harm: Penyakit Mental yang Harus Cepat Diatasi

Idealnya, pergi ke psikolog pernikahan adalah langkah pertama yang harus dilakukan pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Kita mungkin bisa menilai diri kita siap menjalani pernikahan, namun ada kalanya kita membutuhkan peran seorang ahli untuk melihat seberapa siap kita dalam memasuki dunia pernikahan.

Masa krisis akan selalu dihadapi tiap pasangan, bukan hanya pada masa awal pernikahan. Krisis perbedaan pendapat akan selalu hadir bahkan hingga pasangan memiliki anak. Kasusnya, semua krisis ini selalu diawali dari satu masalah yang sama, yaitu kurangnya kontrol emosi dan kondisi mental yang kurang matang.

Perbedaan pendapat ini juga bisa menimbulkan dampak yang besar jika tidak ditangani dengan benar. Ketika pasangan memutuskan pergi ke psikolog pernikahan, sedikit banyak mereka akan diberikan wejangan mengenai cara menghadapi perbedaan pendapat dengan pasangan, hingga menghadapi perbedaan pendapat dengan anak.

Dalam pernikahan juga ada yang namanya kepuasan pernikahan. Dimana tingkat kepuasan antara laki-laki dan perempuan akan berbeda. Contohnya, bagi laki-laki, kepuasan pernikahan mereka terpenuhi jika mereka mendapatkan rasa dihargai, sedangkan bagi perempuan, kepuasan pernikahan mereka akan terpenuhi jika rasa aman dan intimasinya terpenuhi.

Tidak semua orang tahu akan hal ini, ketidaktahuan ini yang membuat banyak pasangan akhirnya depresi dengan pernikahan mereka karena tidak mencapai kepuasan. Pergi ke psikolog pernikahan dapat menjadi sebuah edukasi hal-hal semacam ini yang jika diterapkan dampaknya sangat besar bagi pernikahan.

Karena pada hakikatnya, pernikahan yang baik akan lebih banyak memberikan manfaat. Bukan hanya memberi manfaat bagi suami, namun juga memberi manfaat untuk istri. Sehingga mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan menciptakan harmonisasi dalam pernikahan.

Seringkali psikolog pernikahan menyarankan setiap pasang untuk menguatkan “pondasi” hubungan mereka dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Berikut ini adalah pondasi apa saja yang harus dikuatkan dalam pernikahan.

  1. Komunikasi
Baca Juga:  Putus Asa: Penyebab dan Cara Mengatasi

Hal yang selalu menjadi perhatian jika pasangan memiliki masalah rumah tangga adalah tingkat komunikasinya.Seberapa efektif komunikasi antara suami dan istri, seberapa terbuka mereka antara satu sama lain.

Ternyata hal ini bukan basa-basi semata, dalam psikologi pernikahan, komunikasi yang efektif dapat memicu keterbukaan dan sikap saling memahami antara suami dan istri. Sebagai manusia biasa, pasangan kita tidak bisa membaca pikiran dan hati kita, maka bicara adalah jalan keluarnya. Itulah mengapa psikolog pernikahan seringkali berfokus pada tingkat komunikasi pasangan ketika menangani masalah suami istri.

  1. Kasih Sayang

Ketika sepasang kekasih menikah dengan didasari rasa cinta, maka memupuk kasih sayang dalam pernikahan akan menjaga hubungan itu tetap harmonis. Kita juga bisa mempelajari “bahasa cinta” dari pasangan kita. Hal ini menjadi penting agar kita tahu bagaimana cara memperlakukan pasangan kita agar selalu merasakan kehadiran cinta dan kasih sayang kita dalam rumah tangga.

  1. Komitmen

Apalah artinya sebuah pernikahan tanpa komitmen? Dalam psikologi pernikahan, hal ini menjadi ikatan terkuat dalam mempertahankan rumah tangga. Ketika sepasang suami istri memiliki komitmen, maka akan pasangan suami istri ini akan senantiasa saling menjaga satu sama lain. Istri tidak akan membiarkan suaminya menjaga keutuhan rumah tangga mereka seorang diri, begitupun sebaliknya.

Dalam komitmen ini juga akan terbentuk sikap saling percaya, saling menghargai hingga mau diajak kompromi demi satu tujuan, yaitu mempertahankan hubungan yang telah dibangun. Ego masing-masing akan ditekan demi menciptakan kesepakatan yang disetujui bersama.

Kesimpulannya, dalam membina rumah tangga atau hubungan harmonis, psikolog pernikahan akan mengarahkan bahwa suami istri tidak bisa hanya mengandalkan cinta yang telah mereka bina sebelum menikah, namun butuh kesiapan mental dan psikologis agar dapat menghadapi setiap masalah pernikahan dengan benar.

Baca Juga:  Multitasking: Penjelasan Lengkap

Dengan kesiapa mental, cinta dan materi, maka kita telah berusaha untuk meminimalisir kemungkinan perpisahan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Check Also

Cara Move On dari Mantan

Cara Move On dari Mantan: 18 Tips

18 Cara Move On dari Mantan – Bagi beberapa orang, masa lalu termasuk salah satu …